Anak Cerdas Belum Tentu Kreatif

Anak Cerdas Belum Tentu Kreatif Lho. Mengapa Bisa Demikian?

Memiliki anak dengan IQ yang tinggi tentu sangat membanggakan ya. Tapi bagaimana jika anak Anda cerdas tetapi tidak sangat kreatif? Berpikir kreatif adalah bagian penting dari kehidupan kita, apakah itu di sekolah, bekerja, atau hobi. Jadi apakah ada alasan di balik mengapa anak cerdas belum tentu kreatif ini?  Anak-anak jadi jarang berpikir kreatif tapi pendidikan di sekolahnya tidak mengecewakan; bahkan tergolong sebagai anak yang cerdas. Dilansir dari sheknows, mungkin ada beberapa aspek yang bisa ditelusuri dari penyebabnya.

Anak Cerdas Belum Tentu Kreatif

Kreativitas sendiri merupakan kemampuan anak untuk bisa menghasilkan sesuatu yang terbilang unik, orisinil, dan memiliki nilai seni tersendiri. Walaupun anak Anda tergolong cerdas, tapi kreativitas tetap perlu dilatih dan dikembangkan sedari kecil. Seiring pertumbuhan, anak-anak mulai masuk sekolah dan orang tua pun akan menjadi lebih fokus pada pelajaran sekolah dan keberhasilan akademis anak-anak mereka. Berpikir kreatif telah menurun terutama pada saat anak mulai masuk sekolah. Apakah belajar menguras energi kreatif dari anak-anak tersebut? Sebuah studi yang dipublikasikan di Creativity Research Journal membahas pertanyaaan seputar hal ini.

Bahkan di AS, Anak-anak diajari bagaimana untuk mendapatkan nilai yang tinggi untuk sebuah test atau ujian. Tapi yang kurang adalah mereka tidak diajarkan cara berpikir kreatif atau memecahkan masalah dengan cara yang berbeda karena ada cara-cara penyelesaian yang sudah diajarkan untuk suatu kasus. Sementara yang dibutuhkan untuk kreatif adalah kebebasan si anak untuk memecahkan masalah dengan caranya sendiri yang walaupun terkesan berbeda dan unik tapi sebenarnya masalah tersebut tetap bisa diselesaikannya sendiri. Seharusnya para siswa harus mampu untuk tidak hanya mempelajari keterampilan dasar di kelas seperti menghafal dan berpikir linier tetapi juga memiliki dasar pemikiran kreatif yang akan membantu mereka memecahkan segala macam masalah. Menulis kreatif yang diambil dari majalah sastra dari sekolah seni di New Orleans menunjukkan cenderung kurang eksperimental dalam alur cerita dan yang lebih berbasis pada realitas daripada imajinatif.

Bagaimana mengukur tingkat kreativitas anak?

Ternyata, meskipun para ilmuwan telah menghabiskan puluhan tahun mengembangkan pengukuran untuk intelijen, para ilmuwan belum mengembangkan pengukuran yang akurat untuk mengukur kreativitas. Salah satu alat ukur untuk kreativitas yang mendekati seperti test untuk IQ saat ini adalah Torrance Tests of Creative Thinking (TTCT). Kreativitas diukur berdasarkan pengalaman hidup, bukan buku atau belajar di kelas. TTCT Figural (berpikir kreatif dengan gambar) menggunakan tiga latihan berdasarkan gambar untuk menilai lima karakteristik — orisinalitas, elaborasi, kefasihan, ketahanan dan judul abstrak. Tes ini bisa dilakukan sejak anak usia 5 tahun hingga untuk orang dewasa. Pengukuran ini sering digunakan untuk membantu mengidentifikasi orang-orang muda yang kreatif berbakat dan sebagai bagian dari pengujian berbakat dalam pengaturan multikultural sehingga tidak terjadi hambatan dalam hal bahasa.

Apa yang bisa orang tua lakukan untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak mereka?

Cara untuk mengembangkan kreativitas sendiri bisa dkembangkan sejak anak masih kecil. Dengan mendukung minat dan hobi yang mereka miliki baik di bidang seni maupun hal-hal yang disenanginya. Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua agar kreativitas anak bisa terus berkembang adalah dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Sering berbicara pada anak; Apabila si anak memiliki keingintahuan yang besar terhadap banyak hal, sebaiknya Anda mempersiapkan diri untuk menambah pengetahuan Anda juga agar si anak tetap memiliki rasa ingin tau hingga mereka beranjak dewasa. Anak yang kreatif pada umumnya memiliki rasa ingin tau yang tinggi.
  • Mengajukan banyak pertanyaan “Bagaimana jika?” untuk memicu kreatif jawaban dan solusi.
  • Mendorong anak untuk membaca buku-buku dengan beberapa elemen fantasi atau imajinasi.
  • Memberikan mainan role-play seperti mainan dokter-dokteran atau bermain imajinatif lainnya yang disenangi oleh anak.
  • Mendorong anak untuk menulis cerita, bahkan jika dia hanya belajar untuk menulis. Kumpulkan cerita-cerita pendek ini ke dalam sebuah buku kecil, nantinya anak dapat membaca ulang kapan saja dia mau.

Menciptakan lingkungan keluarga yang selalu mendukung rasa penasaran anak dan mengajak mereka untuk mengeluarkan pendapat atau berbagai ide yang ada di kepala mereka tentu bisa membuat anak lebih percaya diri untuk berkreasi.

Semoga informasi ini berguna. “Share if you think its great information & Like our FB Page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: